Dengan SCADA, ATB Sukses Tekan Kebocoran Air

SHARE

Batam - Pekan lalu, puluhan direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dari seluruh wilayah di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan perangkat aplikasi teknologi informasi Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) dan Geographic Information system (GIS) milik PT Adhya Tirta Batam (ATB).

Bersama Persatuan Perusahaan Air Minum di Indonesia (Perpamsi), ATB ingin berbagi pengetahuan tentang pentingnya mengontrol kehilangan air dengan basis teknologi informasi. Pasalnya, SCADA yang ada dan telah diaplikasi oleh ATB merupakan sistim terlengkap yang dimiliki PDAM yang ada di Indonesia serta mampu menekan kebocoran air.

"Penggunaan SCADA berfungsi untuk bisa lebih mudah mengontrol tingkat kebocoran air. Kesempatan ini bisa menjadi template untuk mengembangkan anggota Perpamsi lainya, yang saat ini masih kesulitan menurunkan tingkat kebocoran. Jadi, tinggal aplikasinya disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing PDAM," ujar Presiden Direktur PT ATB Benny Andrianto di Batam, Kepulauan Riau, Minggu (22/1).

Dikatakan, sistem yang sudah dibangun sejak 2011 itu merupakan sistem unggulan yang dikembangkan oleh karyawan ATB secara langsung. "Sistem SCADA dan GIS yang ada di ATB sudah terintegrasi antara produksi, distribusi, dan NRW. Bahkan, lebih lengkap dibandingkan PDAM lain di Indonesia, seperti Jakarta, Banjarmasin, dan Malang," ujar Benny.

Sekretaris Umum Perpamsi, Erlan Hidayat mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh ATB. Menurutnya, ATB merupakan pionir dalam menekan tingkat kehilangan air yang sudah lebih dulu membuktikan dan maju, termasuk memanfaatkan teknologi informasi agar potensi kehilangan air bisa di kontrol.

Tingkat kehilangan air ATB termasuk yang paling rendah di seluruh Indonesia, yakni di angka 15,28% rata-rata per tahun. Bahkan, angka kebocoran ATB pernah menyentuh angka 11,9% pada Mei 2016.

Erlan menambahkan, adanya tolok ukur, seperti yang sudah digagas ATB, menjadi momentum penting untuk dijadikan bekal bagi anggota Perpamsi lainnya. Apalagi, setiap PDAM memiliki tingkat kebocoran yang berbeda-beda, namun rata-rata kebocoran PDAM masih tinggi, di atas 35%.

"Setiap PDAM tentunya tidak lepas dari polemik kehilangan air. Dengan adanya gagasan seperti ini, kita bisa saling berbagi ilmu dengan PDAM yang berpartisipasi. Pada prinsipnya, semua anggota PDAM sangat tertarik untuk mengetahui hal ini lebih lanjut," ujar Erlan.

Sementara, anggota Deputi IV BP Batam Robert M Sianipar mengatakan, penggunaan teknologi informasi yang digunakan ATB sejauh ini cukup baik. ATB, ujarnya, sudah menjadi pionir perusahaan air minum di Indonesia dalam berbagai hal, mulai dari distribusi hingga produksi yang telah mengaplikasikan teknologi terkini.

"Selama lebih dari 20 tahun ATB telah melebihi target. ATB bisa menjawab tantangan itu dengan menyiapkan suplai air minum ke seluruh warga Batam hingga saat ini, termasuk pemanfaatan teknologi informasi untuk memudahkan operasional. Ini harus dipertahankan dan layanan bisa lebih ditingkatkan lagi," kata Robert.